Minggu, 22 Desember 2013

Proses Suksesi Usaha Keluarga


Definisi Usaha Keluarga
1.   Usaha Keluarga (family business) adalah suatu perusahaan yang kepemilikannya melibatkan fungsi dua atau lebih anggota keluarga yang sama secara langsung dalam sebuah usaha.
2.      Menurut Longenecker, dkk (2003), usaha keluarga adalah:
    “A family business is a company in which two or more members of the same family share ownership or work in its operation”. (“Usaha keluarga adalah suatu perusahaan di mana dua atau lebih anggota keluarga sama-sama berperan sebagai pemilik atau bekerja bersama dalam operasi bisnis”).
3.   Usaha Keluarga merupakan usaha yang kepemilikannya diwariskan dari generasi suatu keluarga pada generasi berikutnya.

Perhatian Keluarga dan Tumpang Tindih (Overlapping) Aktivitas Bisnis
Overlapping (tumpang tindih) adalah keadaan dimana didalam suatu kondisi tercipta dua hal. Hal yang seringkali tumpang tindih dalam aktivitas bisnis keluarga adalah pembicaraan bisnis dan pembicaraan keluarga. Maka keduanya perlu perhatian yang harus dipisahkan dengan jelas. Perhatian yang dimaksud antara lain:
1.      Perhatian Keluarga
a.       Mengurus dan mengasuh anggota keluarga agar tetap harmonis.
b.  Jabatan dan promosi dalam perusahaan berorientasi pada garis keturunan keluarga yang diutamakan dan diprioritaskan.
c.       Loyalitas pada keluarga tetap menjadi tujuan yang sama.
2.      Perhatian Bisnis
Produksi dan distribusi barang atau jasa tetap profesional.
3.      Kebutuhan untuk manajemen professional
Operasi perusahaan yang efektif dan efisien, tetap menjadi tujuan selanjutnya.

Beberapa Keuntungan Usaha Keluarga
1.      Kekuatan hubungan keluarga setiap periode-periode menarik perubahan bisnis.
2.  Pengorbanan-pengorbanan keuangan anggota keluarga membuat usaha menjadi lebih baik, sehingga usaha memperoleh modal murah.
3.      Operasi suatu usaha keluarga mampu membuat kekhasan usaha dari para pesaing.
4.   Tingkat hubungan menjadi lebih tinggi terhadap perhatian komunitas keluarga dengan para pekerja yang bukan keluarga.
5.      Sanggup merencanakan dan menyiapkan untuk menghasilkan laba jangka panjang.
6.      Selalu berfokus pada kualitas dan nilai.

Keuntungan usaha keluarga menurut Longenecker, dkk (2003) adalah sebagai berikut:

1.      Motivasi kuat dari anggota keluarga
Pada tahap awal perintisan dan awal proses, usaha selalu diiringi dengan motivasi kerja kuat dan pengelolaan yang rapi, baik usaha tersebut sudah atau belum mendatangkan manfaat. Masing-masing anggota keluarga akan termotivasi dengan baik bila dapat mencapai tujuannya dan rela untuk mencapai tujuannya dan rela untuk menjaga jalannya usaha.
2.      Menggunakan tema-tema keluarga dalam iklan
Promosi penjualan untuk usaha keluarga lebih cenderung akan menggunakan tema-tema keluarga dalam melakukan periklanannya untuk membedakan dengan para kompetitor.
3.      Penekanan di tempat kerja
Anak laki-laki atau perempuan atau anggota keluarga yang lain saling segan untuk meninggalkan bisnisnya dan diharapkan masing-masing berkontribusi maksimal di tempat kerja atau bisnisnya.
4.      Fokus pada proses perjalanan bisnis
Fokus usaha keluarga terletak pada perjalanan atau proses bisnis.
5.      Penekanan pada produk dan atau jasa
Fokus keluarga terletak pada kualitas dan nilai atas produk dan/jasa yang dihasilkan.

Susunan Budaya dan Pola-Pola Dalam Usaha Keluarga
Budaya total suatu perusahaan keluarga, meliputi bisnis perusahaan, keluarga dan pola-pola pengelolaan. Tidak jarang budaya organisasi usaha keluarga cenderung dibentuk oleh latar belakang keluarga, misalnya etnis atau suku bangsa tertentu dari pucuk pimpinan usaha yang berperan sebagai pencetus usaha keluarga tersebut. Pola-pola perilaku dan kepercayaan yang menjadi ciri khas usaha keluarga juga termasuk pada susunan budaya.

Susunan budaya pada usaha keluarga dapat digambarkan sebagai berikut:
1.      Jenis pola bisnis
a.       Paternalistik
Pola hubungan bisnis dalam keluarga dikelola atau dianalogikan sebagai hubungan antara bapak dengan anak. Seorang bapak lebih dominan dalam mengelola bisnis, dan anak dianggap sebagai orang yang harus patuh pada kebijakan orangtua atau bapaknya.
b.      Laissez-Faire
Pola hubungan bisnis dalam usaha keluarga dikelola secara bebas. Dengan kata lain, anak diberi kebebasan atau dibiarkan atau diberi kebebasan seluas-luasnya dalam berkreasi sepanjang tujuan perusahaan dapat tercapai.
c.       Partisipatif
Pola hubungan bisnis dalam usaha keluarga dikelola dengan mendorong partisipasi seluruh anggota keluarga guna mencapai tujuan perusahaan yang telah ditentukan.
d.      Profesional
Pola hubungan bisnis dalam usaha keluarga antara anggota keluarga dikelola secara professional.
2.      Jenis pola pengelolaan
a.       Dewan kertas
Pengelolaan yang dilakukan oleh dewan pimpinan keluarga hanya formalitas atau hanya diatas kertas.
b.      Dewan stempel
Pengelolaan dewan pimpinan hanya formalitas atau sebagai stempel belaka.
c.       Dewan penasihat
Pendiri usaha dalam pengelolaan usaha keluarga hanya didudukkan sebagai penasihat.
d.      Dewan pengawas
Pendiri usaha hanya sebagai pengawas perusahaan.
3.      Jenis pola keluarga
a.       Perayahan
Pola perayahan dipakai sebagai model dalam pengambilan keputusan, maksudnya pihak ayah sebagai penentu dalam pengambilan keputusan tertinggi perusahaan.
b.      Kerja sama
Pola kerja sama dipakai sebagai model dalam pengelolaan dan pengambilan keputusan tertinggi dalam perusahaan keluarga.
c.       Konflik
Pola manajemen konflik sebagai model dalam pengelolaan dan pengambilan keputusan perusahaan keluarga.

Peran dan Pertalian Keluarga

-          Hal yang perlu diperhatikan oleh Orangtua dalam usaha keluarga
1.      Apakah anak saya memiliki watak dan kemampuan yang dibutuhkan untuk memimpin usaha keluarga?
2.      Bagaimana saya dapat memotivasi anak saya agar memiliki daya tarik besar pada usaha keluarga?
3.      Tipe pendidikan dan keahlian apakah yang mungkin dapat membantu dalam menyiapkan anak saya agar dapat memimpin usaha keluarga?
4.      Apakah jadwal yang harus saya ikuti dalam mempekerjakan dan mempromosikan anak saya sebagai penerus usaha keluarga?
5.      Bagaimana saya dapat menghndari sikap pilih kasih dalam perlakuan dan pengembangan anak saya (tidak ada perbedaan perlakuan terhadap anak, sehingga seolah-olah anak yang satu anak emas dan yang lainnya dianggap sebagai anak tiri)?
6.      Bagaimana saya dapat mencegah hubungan bisnis dari yang mungkin dapat merusak hubungan harmonis antara orang tua dengan anak?

-          Hal yang perlu diperhatikan oleh tim Suami Istri dalam usaha keluarga
1.      Kesempatan untuk membagi lebih dalam setiap kehidupan lainnya.
2.      Pertentangan-pertentangan bisnis yang akan mencampuri kehidupan keluarga.
3.      Pekerjaan tidak dapat ditinggalkan (cuti) untuk kehidupan keluarga.
4.      Pembagian tanggung jawab keluarga mengurangi beban.

-          Hal yang perlu diperhatikan oleh Anak Laki-laki dan Perempuan dalam usaha keluarga
1.      Preferensi individu tidak sama daripada sebuah usaha.
2.      Kecakapan individu tidak cukup untuk memikul peran dalam usaha.
3.      Keinginan individu untuk bebas memilih karir lainnya.

-          Hal yang perlu diperhatikan pada kerja sama Saudara Kandung dalam usaha keluarga
Saudara sekandung saling bekerja sama secara harmonis, mereka tidak saling menjatuhkan satu sama lain, tetapi memandang bahwa saudara kandung sebagai tim inti yang kuat dalam menjalankan usaha keluarga tersebut.

-          Hal yang perlu diperhatikan tentang Kedudukan Hukum
Perlu adanya kejelasan hukum mengenai kedudukan di dalam atau di luar kegiatan usaha. Karena perselisihan dan perbedaan pendapat antar anggota keluarga sering terjadi.

-          Hal yang perlu diperhatikan jika Suami Istri Pengusaha
Komunikasi antara suami istri pengusaha adalah kritis bagi mereka untuk menyelenggarakan sebuah tim yang efektif bagi keduanya, bisnis dan keluarga.

-          Hal yang perlu diperhatikan dalam menyambut Menantu baru dalam usaha keluarga
1.      Perkenalkan mereka pada usaha keluarga.
2.      Berikan mereka gambaran ikhtisiar dan libatkan ia ke dalam suatu seminar yang bertemakan usaha keluarga.
3.      Mainkan peran sebagai duta besar serta tunjukkan empati dan simpati dengan para pendatang baru (menantu).
4.      Akan terdapat penekanan berbagai kekuatan dan prestasi menantu laki-laki atau menantu perempuan.
5.      Berikan ruang emosi pada pengantin baru, mengizinkan mereka untuk membangun tradisi pribadi mereka kedalam usaha keluarga tersebut.

Manajemen Profesioanal pada Usaha Keluarga

Prinsip manajemen profesional pada usaha keluarga mempertimbangkan:
1.      Praktik paling bagus
-          Rangsang pemikiran baru dan pengetahuan strategis yang segar.
-          Tarik dan tetap memakai manajer-manajer yang unggul.
-          Ciptakan suatu fleksibilitas, sehingga dapat menciptakan organisasi kreatif.
-          Ciptakan dan hemat menggunakan modal.
-          Siapkan para pengganti pemimpin.
-          Manfaatkan keunggulan-keunggulan unik anggota keluarga pada usaha.
2.      Keberadaan karyawan bukan keluarga pada usaha keluarga
a.       Karyawan yang bukan keluarga berpotensi menimbulkan bahaya (hazards) dalam hal:
-   Kompetisi dengan anggota keluarga untuk kemajuan usaha.
-  Terjebak dalam pertentangan-pertentangan dan politik kompetisi keluarga dalam perusahaan.
b.      Solusi jika terdapat karyawan yang bukan anggota keluarga pada usaha keluarga adalah:
-  Kenali jabatan yang awalnya hanya untuk anggota keluarga, lalu buatlah cadangan jabatan yang masih mungkin diisi oleh karyawan yang bukan anggota keluarga pada usaha keluarga.
- Sikapi kendala pegawai bukan keluarga dan keluarga secara fair, terutama dalam hal promosi, hukuman dan penghargaan (reward).
3.      Perenungan kembali para anggota keluarga (permenungan/mundur dari keramaian)
Rencanakanlah perenungan yang dilakukan oleh anggota keluarga, misalnya di wilayah terpencil untuk mendiskusikan persoalan-persoalan dan strategi usaha keluarga ke depan. Perenungan ini dapat juga melibatkan dan memanfaatkan fasilitator dari luar perusahaan jika mungkin diperlukan.
4.      Dewan keluarga
Dewan keluarga (family councils) merupakan kelompok organisasi keluarga yang berkumpul secara periodik untuk mendiskusikan isu-isu yang berhubungan dengan usaha keluarga. Tujuan dibentuknya dewan keluarga adalah untuk mengambil keputusan strategis tertinggi. Dengan adanya dewan keluarga bila bisnis mengalami sebuah risiko, maka tidak akan terjadi situasi saling menyalahkan, tetapi sebagai keputusan bersama bila berhasil atau gagal harus dapat diterima oleh semua pihak.

Dibutuhkannya manajemen profesional pada usaha keluarga adalah untuk mencapai suksesi usaha keluarga yang maksimal dan sesuai dengan apa yang diinginkan.


Proses Suksesi Kepemimpinan dalam Usaha Keluarga
Masalah suksesi dalam usaha keluarga merupakan masalah yang krusial bagi kesinambungan suatu perusahaan. Dari berbagai pengalaman yang ada, ternyata tidak mudah untuk mencari pengganti seorang pemimpin dalam usaha keluarga. Menurut Samuel (2003), hal tersebut dikarenakan oleh hal-hal berikut.

1.      Pemegang kekuasaan ingin terus bertahan
Sukses merupakan suatu zat perangsang, maka mempertahankan sukses pada level kepemimpinan merupakan suatu kebiasaan, jika tidak pemimpin itu akan menjadi kecanduan kekuasaan, sebagaimana pendapat Henry Kissinger.
2.      Tidak adanya pelatihan bagi calon pengganti
Hal yang mungkin terjadi kerena tidak ada perencanaan, atau memang sengaja tidak diadakan kaderisasi karena pimpinan takut diganti. Menurut teori kepemimpinan, dalam suatu organisasi perlu dibentuk “tim kerja” atau membentuk tim yang dapat bertahan setelah pemimpinnya meninggalkan organisasi. Perlu adanya tim kerja yang mampu menciptakan para pengganti mereka sebelum mereka tidak mampu memimpin perusahaan.
3.      Tidak ada orang berbakat
Ada juga alasan bahwa di dalam organisasi suatu usaha keluarga tidak ada orang yang kompeten menjadi pemimpin. Kondisi ini juga merupakan salah satu alasan bagi seorang pemimpin untuk mempertahankan kedudukannya. Kondisi ini tercipta karena tidak ada sistem pencarian bakat dari orang-orang yang lebih muda yang selanjutnya akan dibina menjadi pimpinan baru atau pengganti pucuk pimpinan.
4.      Adanya perbedaan kualifikasi
Mungkin adanya perbedaan dalam kualifikasi untuk pemimpin yang baru, sehingga tidak memenuhi persyaratan. Dapat juga dikarenakan kualifikasi terbaru terlalu tinggi, sehingga sukar untuk mendapatkan orang yang memenuhi syarat. Dalam kondisi tidak ada orang yang memiliki kualifikasi yang dibutuhkan. Hal yang harus dilakukan dalam mempersiapkan suksesi adalah mengembangkan bakat yang dimiliki oleh anggota keluarga dalam sebuah usaha keluarga, meliputi:
-          Penasihat
Panduan dan bantuan kerja serta perkembangan suatu pengetahuan anggota organisasi baru atau kurang
-      Hanya memperkenankan anggota-anggota keluarga yang kompeten dan memenuhi syarat untuk memangku tugas kepemimpinan perusahaan guna meningkatkan nilai perusahaan bagi seluruh pihak yang memilki perhatian kepemilikan.

Bagaimana Cara Mencari Eksekutif Pengganti

1.      Mencari dan mengader dari dalam
Membesarkan orang-orang yang ada di dalam perusahaan dengan memberikan pembinaan pribadi untuk berkembang atas orang-orang yang berprestasi di dalam organisasi tersebut. Terdapat keuntungan dan kerugian bila perusahaan menempuh cara ini.
2.      Mencari dari luar
Melakukan seleksi dari orang luar organisasi yang disesuaikan dengan kebutuhan organisasi. Demikian halnya cara ini juga ada untung ruginya
3.      Mengembangkan sendiri pemimpin
Mengembangkan para pemimpin yang ada dengan mempersiapkan di masa datang. Dilakukan perencanaan dan pelatihan dengan menunjuk atau memilih beberapa orang yang kelihatannya memilki talenta untuk menjadi pemimpin masa depan organisasi.

Persyaratan Seorang Pemimpin

Persyaratan menjadi seorang pemimpin menurut Samuel:
1.      Memiliki ambisi
Seseorang yang tidak memiliki ambisi jelas bukan seorang calon pemimpin. Ambisi merupakan motivasi yang diperlukan. Orang tanpa ambisi tidak akan dapat mencapai hasil yang besar atau tidak maksimal.
2.      Sikap terhadap kebijakan
Perlu dipantau apakah ia tegas atau tidak terhadap kebijakan yang ada. Apakah ia lebih kompromis, sehingga tidak sejalan dengan visi perusahaan atau seseorang yang tegas, tetapi memiliki kasih dalam memimpin.
3.      Sikap terhadap rekan
Bagaimana ia memperlakukan rekannya juga sangat berperan dalam peningkatan kepemimpinannya. Apakah ia member oenghargaan jika mereka berhasil, atau teguran jika melanggar. Apakah mereka mengambil keberhasilan orang untuk kemuliaannya sendiri? jika demikian halnya, maka sikap itu bukan ciri seorang pemimpin. Apakah mereka mempunyai sikap favoritisme dalam mengambil keputusan?
5.      Sikap terhadap keluarga
Sikap terhadap keluarga akan menggambarkan sikapnya terhadap perusahaannya. Jika ia sangat memperhatikan keluarganya, ia juga akan memperhatikan perusahaannya.
6.      Kemampuan pemimpin
Kemampuannya dalam memimpin merupakan syarat mutlak. Ia harus berani mengambil resiko, mengatasi tantangan dan bertanggung jawab, serta mempunyai rasa mengasihi pada sesamanya.
7.      Sikap terhadap tuntutan waktu dan energi
Harus tegar terhadap tuntutan perusahaan dan tidak mudah menyerah dalam setiap keadaan. Ia mempunyai energi ekstra karena sebagai pimpinan kadang-kadang tidak dapat dibatasi waktu dalam keadaan tertentu. Pemimpin yang sakit-sakitan pasti tidak dibutuhkan oleh perusahaan.
8.      Mempunyai pengalaman yang luas
Ia juga sebaiknya memiliki pengalaman yang luas. Pengalamannya akan memperkaya organisasi, sehingga dalam mengambil keputusan ia tidak perlu memulai dari nol. Orang yang belum pengalaman biasanya aka nada waktu yang hilang untuk menyesuaikan atau paling tidak harus belajar budaya organisasi untuk beberapa waktu. Wawasannya telah luas dan mempunyai pandangan positif. Pengalaman adalah guru yang paling baik.
9.      Mempunyai pergaulan yang luas
Untuk menjadi pemimpin diperlukan pergaulan yang luas. Hal itu sangat vital karena suatu organisasi memerlukan berbagai akses untuk pengembangannya. Baik untuk perizinan, pemasaran, dan pengenalan produknya. Kalau jaringan pergaulannya luas akan sangat memudahkan mengisi kebutuhan dari organisasi.
10.  Sikap mau terus belajar
Semua orang yang berhasil adalah orang yang mau belajar.


-          Level I Pra-Suksesi
1.      Tahap Pertama Pra-Bisnis
Pada tahapan ini, anak yang akan ditunjuk sebagai calon penerus perusahaan diarahkan untuk menjadi sadar dan mau mengenal segi-segi pokok atau permukaan perusahaan dan atau industri yang dimiliki oleh orangtuanya.
2.      Tahap Kedua Pengenalan
Pada tahap ini, anak-anak sebagai penerus perusahaan akan dibeberkan untuk diperkenalkan pada jargon-jargon bisnis, para pegawainya dan lingkungan bisnis perusahaan yang dimiliki oleh orang tuanya.
3.      Tahap Ketiga Pengenalan Fungsi-Fungsi Operasional
Pada tahap ini, anak sebagai calon penerus perusahaan mulai diperkenalkan terhadap fungsi-fungsi operasioanal penting, seperti proses produksi, penelitian dan pengembangan, keuangan, akuntnasi, pemasaran, pengawasan dan fungsi-fungsi lain perusahaan yang esensial.

-          Level II Masuk Penggantian
1.      Tahap Keempat Menjalankan Fungsional
Pada tahapan ini, anak yang akan ditunjuk sebagai penerus perusahaan sudah mulai diminta untuk sebagai pengganti potensial mulai bekerja sebagai pegawai purnawaktu. Penerus tersebut sudah menjalankan seluruh fungsi yang ditempatkan pada posisi bukan manajemen menengah atau manajemen puncak, melainkan diberi pekerjaan pada posisi staf.
2.      Tahap Kelima Melaksanakan Fungsi Lanjutan
Pada tahapan ini, anak yang akan ditunjuk sebagai penerus perusahaan akan diminta untuk sebagi pengganti potensial. Anak sebagai penerus perusahaan didudukkan untuk memangku posisi pempinan termasuk memahami posisi-posisi utama manajemen missal menjadi presiden direktur perusahaan.

-          Level III Transfer Kepemimpinan Sesungguhnya
1.      Tahap Keenam Suksesi Awal
Pada tahap ini, anak sebagai penerus perusahaan/ sebagai suksesor mengambil tampuk kepemimpinan, termasuk periode dimana suksesor secara legal (de jure) berkedudukan sebagai pemimpin perusahaan yang sah secara hukum.
2.      Tahap Ketujuh Suksesi Sungguhan
Pada tahap ini, anak sebgai penerus perusahaan sudah berfungsi sebagai pengganti pucuk pimpinan secara fakta (de facto) atau direktur utama pada usaha keluarga yang bersangkutan.

Kondisi-Kondisi Pendukung Suksesi Kepemimpinan Yang Berhasil Dalam Suatu Usaha Keluarga
1.      Situasi yang nyaman dan selalu dapat dipercaya, sehingga usaha menjadi menguntungkan.
2.      Kondisi usaha yang stabil karena adanya hubungan-hubungan keluarga yang sehat dan harmonis.
3.      Selalu siap dengan perencanaan ke depan untuk suksesi kepemimpinan.
4.      Kepemimpinan keluarga positif dan struktur manajemen yang berorientasi pada suatu kerja tim yang solid.
5.      Penyajian berbagai kesempatan karier tanpa mengorbankan keharmonisan keluarga.
6.      Komunikasi yang terbuka mengenai isu-isu usaha keluarga.

Inspirasi Berdasarkan Usaha Lokal Yang Sukses

Kasus 10.1 Cerita Singkat “Usaha Gudeg Kendil: Warung Gudeg Bu Djuminten
Warung Gudeg sudah berdiri sejak 1936 di Yogjakarta oleh Bu Djuminten. Warung Bu Djuminten aslinya merupakan warung favorite mantan presiden Soeharto. Warung Gudeg Bu Djuminten awalnya menjual menu favorite gudeg kendil. Hidangan ini adalah sejenis nasi gudeg komplit yang disajikan di dalam wadah berbentuk tabung dari tanah liat yang disebut kendil. Disetiap kendil berisi nasi gudeg lengkap dengan ayam, telur, ati ampela, tahu dan tempe yang ditata rapi. Pada tahun 1997 barulah warung Bu Djuminten masuk ke Jakarta. Dengan ketekunan dari cucu Bu Djuminten yaitu pasangan Hernawan Edi dan Ambarawati, yang rela meninggalkan kesibukan dan pekerjaan masing-masing hanya untuk coba-coba meneruskan warisan sang nenek, maka saat ini Warung Gudeg Kendil telah menjadi makanan yang sangat populer di kalangan masyarakat.

Kasus 10.2 Cerita Singkat “Usaha Keluarga Sukyatno Nugroho Es Teler 77
Sukyatno Nugroho, 59 tahun yang hanya berbekal ijazah SMP saat ini telah menjadi wirausahawan yang sukses besar. Pria asal Jawa ini awalnya mencoba berbagai macam usaha yang tidak berhasil. Tetapi pengalaman itulah yang membuat dia dapat belajaran untuk mengelolah usah yang besar sampai saat ini. Terbukti bukan hanya satu usaha yang dibuka selain Es Teler 77 yang dibuka di berbagai negara yaitu Singapura, Brunai Darusalam, Malaysia dan Australia, dia juga membuka usaha lain berupa “Mie Tek-Tek” dan “Ikan Bakar Pasti Enak”. Tidak hanya itu dengan bekal usaha yang mewaralaba. Anak bungsunya Fredella Nugroho yang dikuliahkan di Australia saat ini menjadi Direktur Pengelola Restoran Modern Cilantro Asian Bistro & Longe restoran terkemuka di Indonesia. Itu merupakan kerja keras ayahnya yang menyekolahkannya dengan kerja keras dan menganggap penting sebuah pendidikan. Maka tidak hanya mewariskan ilmu tetapi juga ketekunan yang membuat anaknya mendapat kepercayaan yang besar.

2 komentar:

  1. Ada daftar pustakanya ga kak? Butuh bgt dafpusnya:))

    BalasHapus
  2. Ada daftar pustakanya ga kak? Butuh bgt dafpusnya:))

    BalasHapus