Definisi Usaha Keluarga
1. Usaha Keluarga (family business) adalah suatu perusahaan yang kepemilikannya
melibatkan fungsi dua atau lebih anggota keluarga yang sama secara langsung
dalam sebuah usaha.
2.
Menurut Longenecker, dkk (2003), usaha keluarga
adalah:
“A family
business is a company in which two or more members of the same family share
ownership or work in its operation”. (“Usaha keluarga adalah suatu
perusahaan di mana dua atau lebih anggota keluarga sama-sama berperan sebagai
pemilik atau bekerja bersama dalam operasi bisnis”).
3. Usaha Keluarga merupakan usaha yang
kepemilikannya diwariskan dari generasi suatu keluarga pada generasi
berikutnya.
Perhatian Keluarga dan Tumpang Tindih (Overlapping) Aktivitas Bisnis
Overlapping (tumpang tindih) adalah keadaan
dimana didalam suatu kondisi tercipta dua hal. Hal yang
seringkali tumpang tindih dalam aktivitas bisnis keluarga adalah pembicaraan
bisnis dan pembicaraan keluarga. Maka keduanya perlu perhatian yang harus
dipisahkan dengan jelas. Perhatian yang dimaksud antara lain:
1.
Perhatian Keluarga
a.
Mengurus dan mengasuh anggota keluarga agar
tetap harmonis.
b. Jabatan dan promosi dalam perusahaan
berorientasi pada garis keturunan keluarga yang diutamakan dan diprioritaskan.
c.
Loyalitas pada keluarga tetap menjadi tujuan
yang sama.
2.
Perhatian Bisnis
Produksi dan distribusi barang atau jasa tetap profesional.
3.
Kebutuhan untuk manajemen professional
Operasi perusahaan yang efektif dan efisien, tetap menjadi tujuan
selanjutnya.
Beberapa Keuntungan Usaha Keluarga
1.
Kekuatan hubungan keluarga setiap
periode-periode menarik perubahan bisnis.
2. Pengorbanan-pengorbanan keuangan anggota
keluarga membuat usaha menjadi lebih baik, sehingga usaha memperoleh modal
murah.
3.
Operasi suatu usaha keluarga mampu membuat
kekhasan usaha dari para pesaing.
4. Tingkat hubungan menjadi lebih tinggi terhadap
perhatian komunitas keluarga dengan para pekerja yang bukan keluarga.
5.
Sanggup merencanakan dan menyiapkan untuk
menghasilkan laba jangka panjang.
6.
Selalu berfokus pada kualitas dan nilai.
Keuntungan usaha keluarga
menurut Longenecker, dkk (2003) adalah sebagai berikut:
1.
Motivasi kuat dari anggota keluarga
Pada tahap awal perintisan dan awal proses, usaha selalu diiringi
dengan motivasi kerja kuat dan pengelolaan yang rapi, baik usaha tersebut sudah
atau belum mendatangkan manfaat. Masing-masing anggota keluarga akan
termotivasi dengan baik bila dapat mencapai tujuannya dan rela untuk mencapai
tujuannya dan rela untuk menjaga jalannya usaha.
2.
Menggunakan tema-tema keluarga dalam iklan
Promosi penjualan untuk usaha keluarga lebih cenderung akan menggunakan
tema-tema keluarga dalam melakukan periklanannya untuk membedakan dengan para
kompetitor.
3.
Penekanan di tempat kerja
Anak laki-laki atau perempuan atau anggota keluarga yang lain saling
segan untuk meninggalkan bisnisnya dan diharapkan masing-masing berkontribusi
maksimal di tempat kerja atau bisnisnya.
4.
Fokus pada proses perjalanan bisnis
Fokus usaha keluarga terletak pada perjalanan atau proses bisnis.
5.
Penekanan pada produk dan atau jasa
Fokus
keluarga terletak pada kualitas dan nilai atas produk dan/jasa yang dihasilkan.
Susunan Budaya dan Pola-Pola Dalam Usaha Keluarga
Budaya
total suatu perusahaan keluarga, meliputi bisnis perusahaan, keluarga dan
pola-pola pengelolaan. Tidak jarang budaya organisasi usaha keluarga cenderung
dibentuk oleh latar belakang keluarga, misalnya etnis atau suku bangsa tertentu
dari pucuk pimpinan usaha yang berperan sebagai pencetus usaha keluarga
tersebut. Pola-pola perilaku dan kepercayaan yang menjadi ciri khas usaha
keluarga juga termasuk pada susunan budaya.
Susunan budaya pada usaha
keluarga dapat digambarkan sebagai berikut:
1.
Jenis pola bisnis
a.
Paternalistik
Pola hubungan bisnis dalam keluarga dikelola atau dianalogikan sebagai
hubungan antara bapak dengan anak. Seorang bapak lebih dominan dalam mengelola
bisnis, dan anak dianggap sebagai orang yang harus patuh pada kebijakan
orangtua atau bapaknya.
b.
Laissez-Faire
Pola hubungan bisnis dalam usaha keluarga dikelola secara bebas. Dengan
kata lain, anak diberi kebebasan atau dibiarkan atau diberi kebebasan
seluas-luasnya dalam berkreasi sepanjang tujuan perusahaan dapat tercapai.
c.
Partisipatif
Pola hubungan bisnis dalam usaha keluarga dikelola dengan mendorong
partisipasi seluruh anggota keluarga guna mencapai tujuan perusahaan yang telah
ditentukan.
d.
Profesional
Pola hubungan bisnis dalam usaha keluarga antara anggota keluarga
dikelola secara professional.
2.
Jenis pola pengelolaan
a.
Dewan kertas
Pengelolaan yang dilakukan oleh dewan pimpinan keluarga hanya
formalitas atau hanya diatas kertas.
b.
Dewan stempel
Pengelolaan dewan pimpinan hanya formalitas atau sebagai stempel
belaka.
c.
Dewan penasihat
Pendiri usaha dalam pengelolaan usaha keluarga hanya didudukkan sebagai
penasihat.
d.
Dewan pengawas
Pendiri usaha hanya sebagai pengawas perusahaan.
3.
Jenis pola keluarga
a.
Perayahan
Pola perayahan dipakai sebagai model dalam pengambilan keputusan,
maksudnya pihak ayah sebagai penentu dalam pengambilan keputusan tertinggi
perusahaan.
b.
Kerja sama
Pola kerja sama dipakai sebagai model dalam pengelolaan dan pengambilan
keputusan tertinggi dalam perusahaan keluarga.
c.
Konflik
Pola manajemen konflik sebagai model dalam pengelolaan dan pengambilan
keputusan perusahaan keluarga.
Peran dan Pertalian Keluarga
-
Hal yang perlu diperhatikan oleh Orangtua dalam
usaha keluarga
1.
Apakah anak saya memiliki watak dan kemampuan
yang dibutuhkan untuk memimpin usaha keluarga?
2.
Bagaimana saya dapat memotivasi anak saya agar
memiliki daya tarik besar pada usaha keluarga?
3.
Tipe pendidikan dan keahlian apakah yang mungkin
dapat membantu dalam menyiapkan anak saya agar dapat memimpin usaha keluarga?
4.
Apakah jadwal yang harus saya ikuti dalam
mempekerjakan dan mempromosikan anak saya sebagai penerus usaha keluarga?
5.
Bagaimana saya dapat menghndari sikap pilih
kasih dalam perlakuan dan pengembangan anak saya (tidak ada perbedaan perlakuan
terhadap anak, sehingga seolah-olah anak yang satu anak emas dan yang lainnya
dianggap sebagai anak tiri)?
6.
Bagaimana saya dapat mencegah hubungan bisnis
dari yang mungkin dapat merusak hubungan harmonis antara orang tua dengan anak?
-
Hal yang perlu diperhatikan oleh tim Suami Istri
dalam usaha keluarga
1.
Kesempatan untuk membagi lebih dalam setiap
kehidupan lainnya.
2.
Pertentangan-pertentangan bisnis yang akan mencampuri
kehidupan keluarga.
3.
Pekerjaan tidak dapat ditinggalkan (cuti) untuk
kehidupan keluarga.
4.
Pembagian tanggung jawab keluarga mengurangi
beban.
-
Hal yang perlu diperhatikan oleh Anak Laki-laki
dan Perempuan dalam usaha keluarga
1.
Preferensi individu tidak sama daripada sebuah
usaha.
2.
Kecakapan individu tidak cukup untuk memikul
peran dalam usaha.
3.
Keinginan individu untuk bebas memilih karir
lainnya.
-
Hal yang perlu diperhatikan pada kerja sama
Saudara Kandung dalam usaha keluarga
Saudara sekandung saling bekerja sama secara harmonis, mereka tidak
saling menjatuhkan satu sama lain, tetapi memandang bahwa saudara kandung
sebagai tim inti yang kuat dalam menjalankan usaha keluarga tersebut.
-
Hal yang perlu diperhatikan tentang Kedudukan
Hukum
Perlu adanya kejelasan hukum mengenai kedudukan di dalam atau di luar
kegiatan usaha. Karena perselisihan dan perbedaan pendapat antar anggota
keluarga sering terjadi.
-
Hal yang perlu diperhatikan jika Suami Istri
Pengusaha
Komunikasi antara suami istri pengusaha adalah kritis bagi mereka untuk
menyelenggarakan sebuah tim yang efektif bagi keduanya, bisnis dan keluarga.
-
Hal yang perlu diperhatikan dalam menyambut
Menantu baru dalam usaha keluarga
1.
Perkenalkan mereka pada usaha keluarga.
2.
Berikan mereka gambaran ikhtisiar dan libatkan
ia ke dalam suatu seminar yang bertemakan usaha keluarga.
3.
Mainkan peran sebagai duta besar serta tunjukkan
empati dan simpati dengan para pendatang baru (menantu).
4.
Akan terdapat penekanan berbagai kekuatan dan
prestasi menantu laki-laki atau menantu perempuan.
5.
Berikan ruang emosi pada pengantin baru,
mengizinkan mereka untuk membangun tradisi pribadi mereka kedalam usaha
keluarga tersebut.
Manajemen Profesioanal pada Usaha Keluarga
Prinsip manajemen profesional
pada usaha keluarga mempertimbangkan:
1.
Praktik paling bagus
-
Rangsang pemikiran baru dan pengetahuan
strategis yang segar.
-
Tarik dan tetap memakai manajer-manajer yang
unggul.
-
Ciptakan suatu fleksibilitas, sehingga dapat
menciptakan organisasi kreatif.
-
Ciptakan dan hemat menggunakan modal.
-
Siapkan para pengganti pemimpin.
-
Manfaatkan keunggulan-keunggulan unik anggota
keluarga pada usaha.
2.
Keberadaan karyawan bukan keluarga pada usaha
keluarga
a.
Karyawan yang bukan keluarga berpotensi
menimbulkan bahaya (hazards) dalam
hal:
- Kompetisi dengan anggota keluarga untuk kemajuan
usaha.
- Terjebak dalam pertentangan-pertentangan dan
politik kompetisi keluarga dalam perusahaan.
b.
Solusi jika terdapat karyawan yang bukan anggota
keluarga pada usaha keluarga adalah:
- Kenali jabatan yang awalnya hanya untuk anggota
keluarga, lalu buatlah cadangan jabatan yang masih mungkin diisi oleh karyawan
yang bukan anggota keluarga pada usaha keluarga.
- Sikapi kendala pegawai bukan keluarga dan
keluarga secara fair, terutama dalam hal promosi, hukuman dan penghargaan (reward).
3.
Perenungan kembali para anggota keluarga
(permenungan/mundur dari keramaian)
Rencanakanlah perenungan yang dilakukan oleh anggota keluarga, misalnya
di wilayah terpencil untuk mendiskusikan persoalan-persoalan dan strategi usaha
keluarga ke depan. Perenungan ini dapat juga melibatkan dan memanfaatkan
fasilitator dari luar perusahaan jika mungkin diperlukan.
4.
Dewan keluarga
Dewan keluarga (family councils)
merupakan kelompok organisasi keluarga yang berkumpul secara periodik untuk
mendiskusikan isu-isu yang berhubungan dengan usaha keluarga. Tujuan
dibentuknya dewan keluarga adalah untuk mengambil keputusan strategis
tertinggi. Dengan adanya dewan keluarga bila bisnis mengalami sebuah risiko,
maka tidak akan terjadi situasi saling menyalahkan, tetapi sebagai keputusan
bersama bila berhasil atau gagal harus dapat diterima oleh semua pihak.
Dibutuhkannya
manajemen profesional pada usaha keluarga adalah untuk mencapai suksesi usaha
keluarga yang maksimal dan sesuai dengan apa yang diinginkan.
Proses Suksesi Kepemimpinan dalam Usaha Keluarga
Masalah
suksesi dalam usaha keluarga merupakan masalah yang krusial bagi kesinambungan
suatu perusahaan. Dari berbagai pengalaman yang ada, ternyata tidak mudah untuk
mencari pengganti seorang pemimpin dalam usaha keluarga. Menurut Samuel (2003),
hal tersebut dikarenakan oleh hal-hal berikut.
1.
Pemegang kekuasaan ingin terus bertahan
Sukses merupakan suatu zat perangsang, maka mempertahankan sukses pada
level kepemimpinan merupakan suatu kebiasaan, jika tidak pemimpin itu akan
menjadi kecanduan kekuasaan, sebagaimana pendapat Henry Kissinger.
2.
Tidak adanya pelatihan bagi calon pengganti
Hal yang mungkin terjadi kerena tidak ada perencanaan, atau memang
sengaja tidak diadakan kaderisasi karena pimpinan takut diganti. Menurut teori
kepemimpinan, dalam suatu organisasi perlu dibentuk “tim kerja” atau membentuk
tim yang dapat bertahan setelah pemimpinnya meninggalkan organisasi. Perlu
adanya tim kerja yang mampu menciptakan para pengganti mereka sebelum mereka
tidak mampu memimpin perusahaan.
3.
Tidak ada orang berbakat
Ada juga alasan bahwa di dalam organisasi suatu usaha keluarga tidak
ada orang yang kompeten menjadi pemimpin. Kondisi ini juga merupakan salah satu
alasan bagi seorang pemimpin untuk mempertahankan kedudukannya. Kondisi ini
tercipta karena tidak ada sistem pencarian bakat dari orang-orang yang lebih
muda yang selanjutnya akan dibina menjadi pimpinan baru atau pengganti pucuk
pimpinan.
4.
Adanya perbedaan kualifikasi
Mungkin adanya perbedaan dalam kualifikasi untuk pemimpin yang baru,
sehingga tidak memenuhi persyaratan. Dapat juga dikarenakan kualifikasi terbaru
terlalu tinggi, sehingga sukar untuk mendapatkan orang yang memenuhi syarat.
Dalam kondisi tidak ada orang yang memiliki kualifikasi yang dibutuhkan. Hal
yang harus dilakukan dalam mempersiapkan suksesi adalah mengembangkan bakat
yang dimiliki oleh anggota keluarga dalam sebuah usaha keluarga, meliputi:
-
Penasihat
Panduan dan bantuan kerja serta perkembangan suatu pengetahuan anggota
organisasi baru atau kurang
- Hanya memperkenankan anggota-anggota keluarga
yang kompeten dan memenuhi syarat untuk memangku tugas kepemimpinan perusahaan
guna meningkatkan nilai perusahaan bagi seluruh pihak yang memilki perhatian
kepemilikan.
Bagaimana Cara Mencari Eksekutif Pengganti
1.
Mencari dan mengader dari dalam
Membesarkan orang-orang yang ada di dalam perusahaan dengan memberikan
pembinaan pribadi untuk berkembang atas orang-orang yang berprestasi di dalam
organisasi tersebut. Terdapat keuntungan dan kerugian bila perusahaan menempuh
cara ini.
2.
Mencari dari luar
Melakukan seleksi dari orang luar organisasi yang disesuaikan dengan
kebutuhan organisasi. Demikian halnya cara ini juga ada untung ruginya
3.
Mengembangkan sendiri pemimpin
Mengembangkan para pemimpin yang ada dengan mempersiapkan di masa
datang. Dilakukan perencanaan dan pelatihan dengan menunjuk atau memilih
beberapa orang yang kelihatannya memilki talenta untuk menjadi pemimpin masa
depan organisasi.
Persyaratan Seorang Pemimpin
Persyaratan menjadi seorang
pemimpin menurut Samuel:
1.
Memiliki ambisi
Seseorang yang tidak memiliki ambisi jelas bukan seorang calon
pemimpin. Ambisi merupakan motivasi yang diperlukan. Orang tanpa ambisi tidak
akan dapat mencapai hasil yang besar atau tidak maksimal.
2.
Sikap terhadap kebijakan
Perlu dipantau apakah ia tegas atau tidak terhadap kebijakan yang ada.
Apakah ia lebih kompromis, sehingga tidak sejalan dengan visi perusahaan atau
seseorang yang tegas, tetapi memiliki kasih dalam memimpin.
3.
Sikap terhadap rekan
Bagaimana ia memperlakukan rekannya juga sangat berperan dalam
peningkatan kepemimpinannya. Apakah ia member oenghargaan jika mereka berhasil,
atau teguran jika melanggar. Apakah mereka mengambil keberhasilan orang untuk
kemuliaannya sendiri? jika demikian halnya, maka sikap itu bukan ciri seorang
pemimpin. Apakah mereka mempunyai sikap favoritisme dalam mengambil keputusan?
5.
Sikap terhadap keluarga
Sikap terhadap keluarga akan menggambarkan sikapnya terhadap perusahaannya.
Jika ia sangat memperhatikan keluarganya, ia juga akan memperhatikan
perusahaannya.
6.
Kemampuan pemimpin
Kemampuannya dalam memimpin merupakan syarat mutlak. Ia harus berani
mengambil resiko, mengatasi tantangan dan bertanggung jawab, serta mempunyai
rasa mengasihi pada sesamanya.
7.
Sikap terhadap tuntutan waktu dan energi
Harus tegar terhadap tuntutan perusahaan dan tidak mudah menyerah dalam
setiap keadaan. Ia mempunyai energi ekstra karena sebagai pimpinan
kadang-kadang tidak dapat dibatasi waktu dalam keadaan tertentu. Pemimpin yang
sakit-sakitan pasti tidak dibutuhkan oleh perusahaan.
8.
Mempunyai pengalaman yang luas
Ia juga sebaiknya memiliki pengalaman yang luas. Pengalamannya akan
memperkaya organisasi, sehingga dalam mengambil keputusan ia tidak perlu
memulai dari nol. Orang yang belum pengalaman biasanya aka nada waktu yang
hilang untuk menyesuaikan atau paling tidak harus belajar budaya organisasi
untuk beberapa waktu. Wawasannya telah luas dan mempunyai pandangan positif.
Pengalaman adalah guru yang paling baik.
9.
Mempunyai pergaulan yang luas
Untuk menjadi pemimpin diperlukan pergaulan yang luas. Hal itu sangat
vital karena suatu organisasi memerlukan berbagai akses untuk pengembangannya.
Baik untuk perizinan, pemasaran, dan pengenalan produknya. Kalau jaringan
pergaulannya luas akan sangat memudahkan mengisi kebutuhan dari organisasi.
10. Sikap
mau terus belajar
Semua orang yang berhasil adalah orang yang mau belajar.
-
Level I Pra-Suksesi
1.
Tahap Pertama Pra-Bisnis
Pada tahapan ini, anak yang akan ditunjuk sebagai calon penerus
perusahaan diarahkan untuk menjadi sadar dan mau mengenal segi-segi pokok atau
permukaan perusahaan dan atau industri yang dimiliki oleh orangtuanya.
2.
Tahap Kedua Pengenalan
Pada tahap ini, anak-anak sebagai penerus perusahaan akan dibeberkan
untuk diperkenalkan pada jargon-jargon bisnis, para pegawainya dan lingkungan
bisnis perusahaan yang dimiliki oleh orang tuanya.
3.
Tahap Ketiga Pengenalan Fungsi-Fungsi Operasional
Pada tahap ini, anak sebagai calon penerus perusahaan mulai
diperkenalkan terhadap fungsi-fungsi operasioanal penting, seperti proses
produksi, penelitian dan pengembangan, keuangan, akuntnasi, pemasaran,
pengawasan dan fungsi-fungsi lain perusahaan yang esensial.
-
Level II Masuk Penggantian
1.
Tahap Keempat Menjalankan Fungsional
Pada tahapan ini, anak yang akan ditunjuk sebagai penerus perusahaan
sudah mulai diminta untuk sebagai pengganti potensial mulai bekerja sebagai
pegawai purnawaktu. Penerus tersebut sudah menjalankan seluruh fungsi yang
ditempatkan pada posisi bukan manajemen menengah atau manajemen puncak,
melainkan diberi pekerjaan pada posisi staf.
2.
Tahap Kelima Melaksanakan Fungsi Lanjutan
Pada tahapan ini, anak yang akan ditunjuk sebagai penerus perusahaan akan
diminta untuk sebagi pengganti potensial. Anak sebagai penerus perusahaan
didudukkan untuk memangku posisi pempinan termasuk memahami posisi-posisi utama
manajemen missal menjadi presiden direktur perusahaan.
-
Level III Transfer Kepemimpinan Sesungguhnya
1.
Tahap Keenam Suksesi Awal
Pada tahap
ini, anak sebagai penerus perusahaan/ sebagai suksesor mengambil tampuk
kepemimpinan, termasuk periode dimana suksesor secara legal (de jure) berkedudukan sebagai pemimpin
perusahaan yang sah secara hukum.
2.
Tahap Ketujuh Suksesi Sungguhan
Pada tahap
ini, anak sebgai penerus perusahaan sudah berfungsi sebagai pengganti pucuk
pimpinan secara fakta (de facto) atau
direktur utama pada usaha keluarga yang bersangkutan.
Kondisi-Kondisi Pendukung Suksesi Kepemimpinan Yang Berhasil Dalam
Suatu Usaha Keluarga
1.
Situasi yang nyaman dan selalu dapat dipercaya,
sehingga usaha menjadi menguntungkan.
2.
Kondisi usaha yang stabil karena adanya
hubungan-hubungan keluarga yang sehat dan harmonis.
3.
Selalu siap dengan perencanaan ke depan untuk
suksesi kepemimpinan.
4.
Kepemimpinan keluarga positif dan struktur
manajemen yang berorientasi pada suatu kerja tim yang solid.
5.
Penyajian berbagai kesempatan karier tanpa
mengorbankan keharmonisan keluarga.
6.
Komunikasi yang terbuka mengenai isu-isu usaha
keluarga.
Inspirasi Berdasarkan Usaha Lokal Yang Sukses
Kasus 10.1 Cerita Singkat “Usaha
Gudeg Kendil: Warung Gudeg Bu Djuminten”
Warung
Gudeg sudah berdiri sejak 1936 di Yogjakarta oleh Bu Djuminten. Warung Bu
Djuminten aslinya merupakan warung favorite mantan presiden Soeharto. Warung
Gudeg Bu Djuminten awalnya menjual menu favorite gudeg kendil. Hidangan ini
adalah sejenis nasi gudeg komplit yang disajikan di dalam wadah berbentuk
tabung dari tanah liat yang disebut kendil. Disetiap kendil berisi nasi gudeg
lengkap dengan ayam, telur, ati ampela, tahu dan tempe yang ditata rapi. Pada
tahun 1997 barulah warung Bu Djuminten masuk ke Jakarta. Dengan ketekunan dari
cucu Bu Djuminten yaitu pasangan Hernawan Edi dan Ambarawati, yang rela
meninggalkan kesibukan dan pekerjaan masing-masing hanya untuk coba-coba
meneruskan warisan sang nenek, maka saat ini Warung Gudeg Kendil telah menjadi
makanan yang sangat populer di kalangan masyarakat.
Kasus 10.2 Cerita Singkat “Usaha
Keluarga Sukyatno Nugroho Es Teler 77”
Sukyatno
Nugroho, 59 tahun yang hanya berbekal ijazah SMP saat ini telah menjadi
wirausahawan yang sukses besar. Pria asal Jawa ini awalnya mencoba berbagai
macam usaha yang tidak berhasil. Tetapi pengalaman itulah yang membuat dia
dapat belajaran untuk mengelolah usah yang besar sampai saat ini. Terbukti
bukan hanya satu usaha yang dibuka selain Es Teler 77 yang dibuka di berbagai
negara yaitu Singapura, Brunai Darusalam, Malaysia dan Australia, dia juga
membuka usaha lain berupa “Mie Tek-Tek” dan “Ikan Bakar Pasti Enak”. Tidak
hanya itu dengan bekal usaha yang mewaralaba. Anak bungsunya Fredella Nugroho
yang dikuliahkan di Australia saat ini menjadi Direktur Pengelola Restoran
Modern Cilantro Asian Bistro & Longe restoran terkemuka di Indonesia. Itu
merupakan kerja keras ayahnya yang menyekolahkannya dengan kerja keras dan
menganggap penting sebuah pendidikan. Maka tidak hanya mewariskan ilmu tetapi
juga ketekunan yang membuat anaknya mendapat kepercayaan yang besar.